Ricky mulai melakukan penelitian pada 1990. Namun, setelah empat tahun, karakter suara yang dinginkan tak juga berhasil didapat. Tahun 1994, Ricky akhirnya memutuskan untuk menstop proyek penelitiannya dan membuka toko elektronik dan speaker Audio Design di Glodok Plaza. “ Modalnya hanya sewa tempat,” ujar Ricky yang mengaku mengandalkan ilmu arsitek untuk mendesain letak speaker.
Kendati menstop penelitian soal speaker, pekerjaan sehai – hari di bidang elektronik dan speaker membuat Ricky tak berhenti untuk terus mengembangkan pengetahuan soal speaker. Tahun 1999, akhirnya ia berhasil membuat speaker satelit setinggi 16 cm, terdiri dari sistem tata suara terpadu antara beberapa speaker satelit berukuran miniature dengan jenis subwoofer pasif.
“Kemampuannya luar biasa, belum ada speaker kecil bikinan luar yang kualitasnya seperti ini. Bisa untuk audio,home theater, juga untuk karaoke,” kata Ricky bangga.
Karena tidak ingin pengalamannya menciptakan sesuatu dibajak orang, Ricky segera mendaftarkan hak paten sistem pembuatan sekaligus rancangan speaker ke Departemen Kehakiman RI .”Tahun 2001, hak paten saya keluar dengan No. ID 0000283S,”tuturnya
Ingin serius mengenalkan produk temuannya, akhir 1999 Ricky memutuskan menutup toko Audio Design dan membuka toko khusus speaker Ry-Design di Mangga Dua. Produksinya hanya dibantu dua pegawai, dikerjakan dengan tangan. Sekitar sepuluh speaker yang dihasilkannya saat itu. Harga jualnya Rp 2,5 juta per speaker. Untuk membuka usaha itu, Ricky terpaksa menguras tabungan, menjual mobil dan meminjam sana-sini.
Saat pertama menjual speaker buatannya, sebenarnya sudah banyak yang menyarankan jangan memasang label made in Indonesia. Tapi, Ricky tak peduli.” Yang penting saya sudah membuat produk terbaik buatan Indonesia,” Katanya. Setahun kemudian, buah kesabarannya pun terbalas. Pembeli berdatangan, dua puluh speaker bias terjual setiap bulan. Salah satu pelanggan setianya adalah Rahmat Gobel.
Kini, speaker satelit yang diproduksi Ricky dijual dengan harga Rp 2,5 juta – Rp 8 juta. Juga ada speaker turbo bass yang digunakan dalam ruangan skala besar dengan harga yang sama. Pemasarannya pun telah meluas sampai ke Bali, Sumatra, dan Kalimantan.” Yang jelas modal sudah kembali,” katya Ricky senang.
Toh, Ricky belum juga puas melakukan penelitian. Akhir Mei 2003, Ricky meluncurkan speaker bass professional pertama di dunia dengan menggunakan speaker aktif 6 inci yang memiliki kemampuan 800 watt -2000 watt tapi konsumsi listrik Cuma 400 watt.
Sayang, Ricky masih belum mampu memproduksi speaker dalam jumlah banyak. Hingga kini, produksi speaker Ey-Design masih dikerjakan di rumahnya di tangerang dengan tenaga sebelas orang karyawan. Beruntung berkat bantuan Rahmat Gobel, “Akhir tahun saya mau produksi di pabrik Panasonic,” kata Ricky. Soal biayanya? “ sudah adabank yang percaya memberikan kreditny,” kata Ricky menjelaskan rencananya. Wah jalan sukses bagi Ricky agaknya makin lebar dan sudah membentang di depan mata. |